MASALAH SEPUTAR BID’AH
Deskripsi Masalah :
Bid’ah adalah kata yang sering
dilontarkan oleh sebagian kelompok untuk menuding kelompok lain sebagai
golongan yang sesat. Kelompok pertama berdalih dengan hadits. كل بدعة ضلالة.
Sedangkan kelompok kedua berkata tidak semua bid’ah sesat, dengan berbagai
argumen yang dimiliki.
Pertanyaan :
- Apa asbabul wurud وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة ?
- Apa benar membagi bid’ah dengan بدعة دينية dan بدعة دنياوية ?
- Apa batasan amaliyah bisa dikatakan bid’ah atau tidak bid’ah ?
Jawaban Masalah I.1
Hadits وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
diriwayatkan dalam berbagai macam kitab hadits. Diantaranya terdapat
dalam Kitab Sunan Nasai I/188 nomor 1578, Shahih Muslim III/11 nomor 2042,
Sunan Ahmad III/3 nomor 310 dan Ibnu Majah I/17 nomor 45. Semuanya tidak
menyebutkan asbabun nuzulnya. Hanya diterangkan bahwa Rasulullah SAW
menyampaikannya pada salah satu khutbah beliau. Sebagaimana tersebut dalam matan
Shahih Muslim III/11 nomor 2042 sbb :
2042 -…. عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ
احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ
مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ « صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ». وَيَقُولُ « بُعِثْتُ
أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ ». وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ
وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ
اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ». ثُمَّ يَقُولُ « أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ
مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ
ضَيَاعًا فَإِلَىَّ وَعَلَىَّ ».) صحيح مسلم - ج 3 / ص 11)
Artinya “….Dari Jabir bin Abdillah
ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila beliau berkhutbah maka memerahlah
mata beliau, keraslah suara beliau dan sungguhlah marah beliau, sehingga
seolah-olah beliau adalah panglima perang seraya bersabda : ‘Pergunakanlah
waktu pagi dan sore kalian. Aku diutus sedangkan aku dan kiamat seperti ini ---
dan beliau mensejajarkan antara jari telunjuk dan jari tengah---dan bersabda
:’Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejelek-jelek perkara adalah
sesuatu perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.’ Lalu beliau
bersabda :’Aku lebih utama bagi setiap mukmin daripada dirinya sendiri.
Barangsiapa meninggalkan harta maka harta itu bagi keluarganya. Dan barang
siapa meninggalkan hutang, atau sesuatu yang tidak terurus, maka menjadi
tanggunganku.”
Di dalam Kitab Sunan Nasai III/209
diriwayatkan dengan redaksi yang lebih lengkap :
1577 …. عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ
يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا
هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ
هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ ثُمَّ يَقُولُ
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ
احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ
جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ ثُمَّ قَالَ مَنْ تَرَكَ مَالًا
فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ وَأَنَا
أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ
Artinya “…..Dari Jabir bin Abdillah
ia berkata : Adalah Rasulullah SAW beliau bersabda dalam khutbah khutbahnya
seraya memuji Allah dengan apa yang Dia memang memilikinya. Kemudian beliau
bersabda : ‘Barangsiapa yang Allah beri pentunjuk, maka tiada seorang pun dapat
yang menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tiada
seorangpun yang dapat menunjukkannya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan
adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan
sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan dan setiap sesuatu
perkara baru yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan
setiap kesesatan menyebabkan masuk ke dalam neraka’ Lalu beliau bersabda :’Aku
diutus sedangkan kiamat adalah seperti kedua jari ini---Dan beliau ketika
mengingat kiamat, maka merahlah kedua pipinya, mengeraslah suaranya dan
memuncaklah kemarahannya.Seolah-olah beliau adalah panglima perang--- Beliau
bersabda : ‘Pergunakanlah waktu pagi dan sore kalian.’ Lalu beliau bersabda :
‘Barangsiapa meninggalkan harta, maka harta itu adalah milik keluarganya. Dan
barang siapa meninggalkan hutang, atau sesuatu yang tidak terurus, maka menjadi
tanggunganku.”
Semua hadits yang semisal dengannya
tidak ada satupun yang menerangkan asbabul wurudnya. Yang nyata adalah
bahwa beliau mengucapkannya pada saat khutbah.
Jawaban Masalah I.2
Pembagian bid’ah ke dalam katagori bid’ah
diniyyah dan bid’ah duniawiyyah dikemukakan oleh kelompok yang tidak
menyetujui pembagian bid’ah ke dalam katagori bid’ah hasanah dan bid’ah
sayyiah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh mufti Saudi Arabia, Abdullah bin Baz
dalam salah satu fatwanya ketika diminta menjelaskan hadits كل
محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار sebagai berikut :
قسم العلماء البدعة إلى بدعة دينية
وبدعة دنيوية . فالبدعة في الدين هي : إحداث عبادة لم يشرعها الله سبحانه وتعالى
وهي التي تراد في الحديث الذي ذكر وما في معناه من الأحاديث .وأما الدنيوية: فما
غلب فيها جانب المصلحة على جانب المفسدة فهي جائزة وإلا فهي ممنوعة
Artinya : Para ulama membagi bid’ah
ke dalam bid’ah diniyyah dan bid’ah duniawiyyah. Bid’ah dalam agama ( din )
adalah melakukan hal-hal baru dalam masalah ibadah yang tidak disyari’atkan
oleh Allah SWT. Dan itulah yang dikehendaki dalam hadits tersebut dan
hadits-hadits lain yang semakna dengannya. Adapun bid’ah duniawiyyah , maka apa
saja yang lebih banyak kebaikan daripada kerusakannya adalah boleh.
Apabila tidak, maka terlarang.”
Hal senada juga dikemukakan oleh
ulama Saudi lainnya seperti Shalih bin Fauzan ( Lihat Kitab Al-Muntaqa min
Fatawa Fadlilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan I/171).
Para ulama Saudi yang notabene
adalah para penyokong faham Wahabi, membagi bid’ah kedalam klasifikasi diniyyah
dan duniawiyyah
Diantara dalil yang mereka jadikan
argumentasi adalah :
(( مَنْ أَحْدَثَ في أَمْرِنا
ما لَيسَ مِنهُ فَهو رَدٌّ )) ((2)) ، فكلُّ من أحدث شيئاً ، ونسبه إلى الدِّين ،
ولم يكن له أصلٌ من الدِّين يرجع إليه ، فهو ضلالةٌ ، والدِّينُ بريءٌ منه ،
وسواءٌ في ذلك مسائلُ الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال الظاهرة والباطنة .)
جامع العلوم والحكم - ج 28 / ص 25)
Artinya : “Barangsiapa yang membuat
perkara baru dalam urusan kita yang tidak termasuk bagian darinya, maka
ia tertolak. Maka siapa saja yang membuat sesuatu perkara baru dan disandarkan
kepada agama, dan tidak ada dasar dari agama ; maka dikembalikanlah kepadanya.
Dia sesat dan agama terbebaskan darinya. Baik dalam masalah keyakinan,
amal perbuatan, maupun pendapat yang bersifat lahir ataupun batin.
Mereka memahami sabda beliau
“في أَمْرِنا” urusan yang termasuk urusan agama ( ad-din ).
Ada beberapa kontradiksi dan
inkonsistensi dalam pendapat mereka yang membagi bid’ah ke dalam bid’ah
diniyyah dan bid’ah duniawiyyah ini. Di antaranya :
- Mereka pada awalnya berpendapat bahwa semua bid’ah adalah sesat. Di antaranya adalah fatwa Syeikh Shalih bin Fauzan berikut ini :
والأحاديث في النهي عن البدع
والمحدثات أحاديث كثيرة ومشهورة، وكلام أهل العلم من الصحابة والتابعين ومن جاء
بعدهم من المحققين كلام معلوم ومشهور وليس هناك بدعة حسنة أبدًا، بل البدع كلها
ضلالة؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : "وكل بدعة ضلالة".
“Hadits-hadits yang melarang bid’ah dan sesuatu hal baru sangat banyak dan
popular. Pendapat ahli ilmu dari golongan shahabat, tabi’in dan sesudahnya dari
para muhaqqiqin adalah pendapat yang jelas diketahui dan popular. Tidak ada di
sana bid’ah hasanah untuk selamanya. Tetapi semua bid’ah adalah sesat
sebagaimana sabda Nabi SAW “Dan setiap bid’ah adalah sesat.
Tetapi tiba-tiba muncul pendapat di
kalangan mereka sendiri, yang membagi-bagi bid’ah ke dalam diniyyah dan
duniawiyyah, serta membagi lagi bid’ah duniawiyyah ke dalam yang boleh dan yang
terlarang.
- Pembagian bid’ah ke dalam bid’ah diniyyah dan bid’ah duniawiyyah tidak pernah dikenal pada masa Rasulullah, shahabat dan tabi’in dan generasi ulama salaf. Artinya pendapat tersebut adalah perbuatan bid’ah pula.Benar komentar Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam Kitab Mafahim berikut ini :
….
klasifikasi bid’ah kepada diniyyah dan dunyawiyyah, secara pasti tidak pernah
ada pada masa tasyri’ – dari mana kiasifikasi semacam itu lahir? Dari manakah
penamaan baru tersebut timbul’?
- Pembagian bid’ah ke dalam bid’ah diniyyah dan bid’ah duniawiyyah secara aplikatif akan memunculkan kesulitan baru ketika harus mengklasifikasikan mana perkara yang termasuk diniyyah dan mana yang duniawiyyah. Sebagaimana kritik Dr. Sayyid Muhammad :
Namun … mengenai hal ini pula,
menurut pengalaman, orang-orang tersebut tak dapat menjawab setiap kali
ditanyakan: Di dalam agama yang mulia ini, adakah perkara duniawi yang bukan
merupakan perkara diniyah (agama)?
Jika ada, kapan suatu amal perbuatan
menjadi urusan duniawi, kapan pula menjadi urusan diniyyah? Apa ukuran yang
membedakannya?
- Apabila dicermati secara teliti, sebenarnya mereka juga membagi urusan duniawi ke dalam dua kategori yakni hasanah dan sayyiah. Karena dalam pandangan mereka, urusan duniawi yang mengadung maslahah ( hasanah ) dihukumkan boleh dan yang mengandung mafsadah ( sayyiah ) terlarang.
Adapun pemahaman yang tepat tentang
hadits أنتم أعلم بأمور دنياكم adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam
Nawawi dalam Kitab Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim XV/116 sebagai berikut :
شرح النووي على مسلم - (ج 15 / ص 116)
أنتم أعلم بامر دنياكم قال العلماء
قوله صلى الله عليه و سلم من رأيي اي في امر الدنيا ومعايشها لا على التشريع فأما
ما قاله باجتهاده صلى الله عليه و سلم ورآه شرعا يجب العمل به وليس آبار النخل من
هذا النوع بل من النوع المذكور قبله
Artinya:” أنتم أعلم بامر
دنياكم (kalian lebih tahu dengan urusan dunia kalian ), berkata para ulama
adalah perkataan beliau SAW yang berasal dari ra’yu yakni dalam urusan dunia
dan penghidupannya yang tidak atas tujuan tasyri’ (penetapan hukum). Adapun
perkataan beliau berdasarkan ijtihad beliau dan beliau pandang sebagai syara’
maka wajiblah mengamalkannya. Dan tidaklah penyerbukan pohon kurma bagian dari
kategori ini, tetapi bagian dari kategori yang tersebutkan sebelumnya
(perkataan beliau SAW yang berasal dari ra’yu yakni dalam urusan dunia dan
penghidupannya yang tidak atas tujuan tasyri’)’.”
Dari keterangan Imam Nawawi
tersebut, dapat digarisbawahi bahwa urusan duniawi pun tidak semuanya terlepas
dari hukum syara’, sepanjang syara’ telah mengaturnya. Maka perkara baru dalam
urusan dunia yang bertentangan dengan syara’ tetap dianggap buruk (bid’ah
sayyiah). Sedangkan perkara baru dalam urusan duniawi yang sesuai dengan
petunjuk syara’ ditetapkan sebagai kebaikan (bid’ah hasanah).
Kesimpulannya, menggunakan hadits
أنتم أعلم بامر دنياكم untuk mengklasifikasikan bid’ah ke dalam bid’ah diniyyah
yang dilarang dan bid’ah duniawiyyah yang diperbolehkan adalah tidak tepat.
Jawaban Masalah I.3
Para ulama muhadditsin dari kalangan
ahlussunnah wal jama’ah, mendefinisikan bid’ah sebagai berikut :
- Imam an-Nawawi dalam Kitab Tahdzibul Asma wal Lughat III/22 :
إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله صلى
الله عليه وسلم
“Melakukan perbuatan baru yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW.”
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Kitab Fathul Bari VI/292 :
وَالْبِدْعَة أَصْلُهَا مَا أُحْدِثَ
عَلَى غَيْر مِثَالٍ سَابِقٍ ، وَتُطْلَقُ فِي الشَّرْع فِي مُقَابِلِ السُّنَّةِ
فَتَكُونُ مَذْمُومَةً ، وَالتَّحْقِيقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ
تَحْت مُسْتَحْسِنٍ فِي الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ وَإِنْ كَانَ مِمَّا تَنْدَرِجُ
تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِي الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ وَإِلَّا فَهِيَ مِنْ
قِسْمِ الْمُبَاحِ وَقَدْ تَنْقَسِمُ إِلَى الْأَحْكَامِ الْخَمْسَةِ .
“Pada dasarnya bid’ah adalah sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contoh
sebelumnya. Dan menurut syara’ dimutlakkan sebagai lawan dari sunnah maka ia
tercela. Yang benar, bahwa apabila termasuk sesuatu yang dianggap baik menurut
syara', maka ia adalah baik. Dan apabila termasuk sesuatu yang dianggap jelek
menurut syara’ maka ia tercela. Apabila tidak termasuk keduanya maka ia
termasuk bagian perkara yang mubah.Dan terbagi ke dalam hukum yang lima (
wajib, sunat, makruh, mubah dan haram).”
Kesimpulannya, perkara baru yang
tidak pernah dilakukan pada masa hidup Rasulullah SAW adalah bid’ah. Apabila
perkara baru tersebut dianggap baik menurut syara’ maka dikategorikan bid’ah
hasanah yang dapat dihukumkan wajib, sunat, ataupun mubah. Tetapi jika perkara
baru tersebut dianggap jelek menurut syara’, maka dikategorikan ke dalam bid’ah
sayyiah yang dapat dihukumkan haram ataupun makruh.